Mendidik Anak Sholeh

catatan ringan seputar bagaimana mendidik anak sholeh

Monday, March 06, 2006

Logika Anak2


Abi ingin menggunting koran. Lalu dia ambil koran yang ada di meja, tapi dilarang oleh ibunya ;
"Abi jangan pakai koran itu."
"Kenapa?"
"Karena itu koran baru, belum dibaca. Pakai koran yang kemarin aja yang sudah dibaca."
Akhirnya diambilkan koran bekas sama ibunya.
Lalu dia mulai bermain menggunting koran bekas.

Beberapa hari kemudian, ketika di teve tampak ada seorang pengemis yang tidur beralas koran. Abi tampak sangat memperhatikan pengemis itu. Kemudian dia bertanya pada ibunya :
" Itu korannya sudah dibaca, ya? "
he.he.he.

Intermezzo 2


Abi (3.5 th) suka sekali main gunting. Kalau dilarang, dia nangis. Akhirnya diajari bagaimana cara menggunting kertas. Mula-mula dia kesulitan, tapi lama kelamaan bisa juga meskipun belum bisa menggunting dengan benar. Ketika dia asyik menggunting koran, ibunya lewat. Melihat Abi yang sangat serius, ibunya bertanya :
" Lagi bikin apa, Bi? "
Dengan wajah serius, dan masih konsentrasi dengan pekerjaannya, Abi menjawab :
" Lagi bikin masalah ."
ha.ha.ha

Intermezzo

Beberapa waktu lalu Dhaffa (2.5 th) ikut kakaknya, Abi (3.5 th) ke playgroup. Salah satu ibu-ibu yang ikut mengantar anaknya menyapa Dhaffa, ngajak ngobrol (ngudang - Jw). Mungkin karena masih baru dengan suasana di lingkungan sekolah tsb, Dhaffa diam saja.
" Lho kok diam saja?" tanya ibu itu.
Abi yang di sebelahnya memperhatikan, lalu dia nyeletuk :
" Ngga tuh. Matanya gerak-gerak. "
ha.ha.ha..

Wednesday, September 14, 2005

Sinetron Klenik Islam

Waktu itu sehabis sholat maghrib, Rini membaca Al Qur’an. Tiba-tiba Deden (5 th) dengan ekspressi ketakutan bilang ;
“ Tante Rini, jangan ngaji! Jangan baca itu ! …”
‘ Kenapa, Den?’
“ Deden takut…Ada setan di situ….”
Deden mengira orang mengaji (baca Qur’an) adalah untuk mengusir setan, seperti dalam sinetron yang marak di tayangkan di televisi. Sejak saat itu, saya makin terganggu dengan sinetron klenik Islam, karena memberi pengaruh buruk pada anak-anak.

Itu salah satu keluhan dari temanku. Sinetron2 klenik Islam memberi pengaruh buruk terutama pada anak-anak, atau orang yang kurang faham tentang Islam. Baca qur’an adalah untuk mengusir setan, kyai-kyai (pakai sorban) adalah orang yang bisa mengusir setan, dst. Tidak mendidik sama sekali.

Tidak seperti sinetron pendahulunya yang cukup bagus dan bernilai dakwah serta berhasil memberi pengaruh positif yaitu Rahasia Ilahi di TPI dengan Ust. Arifin Ilham. Ada beberapa anak yang setelah nonton sinetron ini jadi rajin sholat, taat pada orang tua, dermawan, dst. Karena ratingnya yg cukup tinggi, maka bermunculanlah sinetron2 tiruan, namun parahnya malah melenceng dari dakwah sesungguhnya. Seperti misalnya sinetron Insyaf, Kuasa Ilahi, Taubat, Takdir Ilahi, Misteri Ilahi, dll.

Beberapa sinetron yang tadinya bernuansa remaja berubah jadi klenik Islam, contohnya si Yoyo, Cinta SMU dll. Sedangkan sinetron klenik Misteri Ilahi lebih parah lagi, dikemas dengan mistik. Misteri Ilahi Nyi Blorong, Misteri Ilahi Babi Ngepet. Betapa kagetnya saya, ternyata kok ustadnya adalah salah satu ustad idola saya yaitu Ustad Jefri. Duh, jadi lieur, pusing…... Tadinya saya mau protes lewat surat pembaca di media massa, saya jadi ragu2. Bagaimana ini?

Wednesday, June 15, 2005

What Do You Think ?

Ini imel dari seorang ibu yang sangat concern terhadap pendidikan anaknya, dan hasilnya? Luar biasa....! Coba umat Islam melakukan hal yang sama, pastilah calon-calon khalifah akan banyak bermunculan di muka bumi ini. Aku jadi iri, dan gemes, serta geregetan gak sabar ingin menerapkan hal yang sama. Sehingga nanti akan muncul lagi generasi2 seperti Imam Syafii yang umur 7 tahun sudah hafal Al Qur'an, Imam Ibnu Katsir, Imam Bukhori, dan banyak ulama2 lain yang tidak banyak informasi tentang bagaimana cara ibu mereka mendidik anaknya sehingga menjadi ulama yang namanya dikenang hingga akhir zaman.
Ok, let's check it out :

Dear Parents,

Menyinggung tentang Multiple Intelligence dalam makalahnya. Saya ingin berbagi pengalaman saya dalam menerapkan secara langsung Kecerdasan Majemuk pada kedua anak saya.

Sebelumnya saya ingin memperkenalkan kedua anak saya, Timothy (9 th) dan Jeremy (3 th). Timothy akan memasuki Center for the Highly Gifted semester depan. Sebelumnya ia mengikuti beberapa kali tes baik secara individu maupun secara kelompok yang dimulai tahun lalu. Saya senang sekali Timothy bisa diterima di sekolah khusus itu, karena selain seleksinya sangat ketat, ia bisa melewati berbagai tes dengan sangat baik. Bayangkan, tes pertama dilakukan pada saat kami baru 2 bulan pindah ke Amerika dari Jakarta. Dengan bekal bahasa Inggris logat Indonesia (ibunya) ia bisa masuk di top 10 % anak kelas 2 seluruh Amerika (tes bahasa dan matematika). Selain bakat akademis (bahasa, matematika, science) yang menonjol, Timothy juga mempunyai bakat piano dan tenis yang sangat bagus. Dia juga sangat mudah bergaul baik dengan teman sebaya, orang dewasa maupun anak kecil. Selaku orangtua, saya sangat tenang melihat kedewasaannya dalam berpikir, cinta belajar (tidak pernah berhenti bertanya dan menggabungkan berbagai hal yang ia pelajari), memiliki motivasi dan disiplin diri yang sangat kuat serta kehidupan spiritual yang solid.

Anak kedua, Jeremy, juga sudah menunjukkan berbagai bakat yang siap dipupuk. Dia cepat sekali menangkap berbagai pelajaran. Hanya dengan mendengarkan saya berdiskusi dengan abangnya tentang pr, dia bisa menangkap bahkan memikirkannya lebih jauh. Sebagai contoh, beberapa minggu lalu abangnya punya project tentang solar system. Timothy menerangkan pada saya tentang cara berputar planet termasuk bumi, apa yang terjadi ketika belahan bumi tertentu menghadap matahari. Kalau di Amerika siang, berarti di Indonesia malam, dst. Jeremy menyimak dengan baik. Saya surprise sekali ketika ia bermain sendiri, Jeremy mengambil mainan bola dunia dan bola sepak lalu mempraktekkan perputaran bumi mengelilingi matahari seperti yang diterangkan abangnya. Saya makin surprise ketika beberapa minggu kemudian dia mendengar saya menelpon neneknya di Indonesia, ia mengatakan “Mami bicara dengan Pinem (neneknya)? Lho, ini kan pagi di Amerika, berarti malam di Indonesia, seharusnya Pinem tidur sekarang!” Pada suatu hari ia sendirian menonton video tentang solar system, kemudian ia berlari mencari saya dan bertanya “Mami, katanya bumi berputar, tapi aku kok tidak merasakannya?” Anak 3 th sudah bergulat dengan teori gravitasi dan menguasai logika. Jeremy juga sudah menunjukkan kecerdasan spiritual yang bagus, malam hari dia berdoa “God, thank you for Jupiter the biggest planet, for the Earth where we live, for Uranus, Saturn, Pluto the smallest planet, dst”. Kecerdasan bahasa Jeremy sangat menonjol, dia dan abangnya bisa berpindah bahasa dari Inggris ke Indonesia bolak balik setiap kali bermain. Vocabularynya luar biasa, sangat haus membaca, minimal 2 jam sehari. Dia mulai bisa menulis dan membaca kata sejak berumur 2 th. Berhitung juga merupakan kegiatan favoritnya, sudah bisa berhitung sampai seratus, penambahan sampai 20, pengurangan sampai 10, sudah bisa membaca jam, hari. Memorinya kuat, sudah bisa mengingat 50 propinsi di Amerika berikut ibukotanya. Ditambah lagi sudah bisa menyusun puzzle ke 50 propinsi itu dan bisa menunjuk masing-masing state. Bakat bermain sepak bola terlihat sejak bayi (umur 6 bulan sudah bisa memainkan bola dengan kedua kaki sambil berbaring), demikian juga umur setahun dia sudah meniru abangnya memukul bola tenis dan bisa melewati net (jarak + 1m ). Bakat musiknya juga sudah muncul, ia sangat senang memainkan tuts piano, mencipta lagu, bahkan bisa mengingat melody musik klasik yang dimainkan abangnya. Secara sosial, ia mudah bergaul dan selalu mendahului memperkenalkan diri.



Saya percaya bahwa hasil yang sudah ditunjukkan oleh kedua anak saya adalah karena saya dengan sengaja mengembangkan Kecerdasan Majemuk mereka. Seperti yang dikatakan Ibu Julia, konsep Kecerdasan Majemuk sebenarnya sederhana saja. Namun demikian, dampaknya sangat luar biasa untuk menciptakan anak yang utuh.

Anak-anak kita akan menghabiskan waktu lebih dari 20 th di bangku sekolah, tentunya kita perlu menyiapkan balita kita agar memiliki skill akademik untuk menjamin sukses di sekolah. Kecerdasan berbahasa, Kecerdasan Matematika, Kecerdasan Ruang, Kecerdasan Alam adalah berbagai kecerdasan yang dibutuhkan di sekolah (Kalau saya tidak menyiapkan Timothy dengan bahasa Inggris dan matematika sebelumnya, pastilah dia tidak akan lolos tes). Selain itu anak perlu kecerdasan Sosial untuk bisa diterima teman-temannya di sekolah dan di tempat lain. Anak juga perlu Kecerdasan Intrapersonal ataupun pengembangan karakter agar bisa menjadi anak yang tekun, tidak mudah menyerah, disiplin. Tentunya skill tersebut sangat dibutuhkan tak hanya di sekolah, namun juga di pekerjaannya nanti. Kecerdasan Fisik akan sangat membantu anak untuk memiliki stamina tinggi dan membangun rasa percaya diri. Olah raga tidak hanya bagus untuk anak-anak tapi juga orang dewasa karena membantu pengeluaran hormone yang membuat kita merasa nyaman. Selanjutnya, Kecerdasan Musik mempunyai dampak sangat penting bagi otak anak seperti yang banyak dilaporkan oleh berbagai penelitian (meningkatkan kecerdasan matematika, spasial/ruang, membantu emosi anak, meningkatkan kreatifitas, dst. ). Saya banyak membaca hasil penelitian musik dan saya terapkan langsung pada anak saya, termasuk memperdengarkan musik klasik sejak dalam kandungan. Ternyata anak saya bisa membedakan lagunya ketika ia lahir. Gardner tidak memasukkan Kecerdasan Spiritual dalam konsepnya, namun saya merasa hal itu sangat penting untuk kehidupan seseorang termasuk anak. Anak-anak balita sudah memulai berpikir tentang konsep mati-hidup, keadilan, eksistensi, dari mana ia muncul, yang semuanya merupakan bagian dari kehidupan spiritual. Saya membaca bahwa Kecerdasan Spiritual mempunyai masa emasnya pada masa balita, kalau anak dibimbing dengan tepat kecerdasan itupun akan berkembang dengan optimal.

Kesembilan Kecerdasan tersebut saya terapkan pada anak saya sejak dini. Penerapannya pun sederhana. Beberapa kecerdasan bisa dilatih sekaligus hanya melalui satu permainan. Misalnya melalui permainan puzzle Dinosaurus, Jeremy melatih Kecerdasan Ruang (melalui puzzle); Kecerdasan Matematika (dengan menghitung jumlah dinosaurus yang ada dan kombinasi pengurangan: “kalau satu dinosaurus mati, ada berapa yang tinggal?”); Kecerdasan Alam dengan mendiskusikan lingkungan Dinosaurus, makanannya (herbivore, carnivore), cara reproduksi (beranak dengan bertelur); Kecerdasan Bahasa melalui diskusi-diskusi diatas dan belajar nama-nama Dinosaurus; Kecerdasan Musik dengan menirukan suara Dinosaurus lalu mencipta lagu Dino; Kecerdasan Fisik dengan menirukan cara jalan Dinosaurus dan peperangan untuk mendapatkan makanan; Kecerdasan Sosial dengan bermain tamu-tamuan ala Dino; Kecerdasan Intrapersonal dengan menyelesaikan potongan puzzle yang cukup banyak; Kecerdasan Spiritual, Jeremy belajar tentang “Tuhan Maha Besar” ketika ia tahu bahwa Pencipta Dinosaurus adalah Tuhan. Nampaknya cara itu lebih efektif daripada hanya melalui kata-kata.

Satu hal lagi yang sangat penting, di dalam berinteraksi dengan anak-anak, saya selalu berusaha menciptakan suasana FUN. If it is not fun, quit. Saya banyak belajar tentang cara kerja otak dan tahu bahwa tanpa kegembiraan, proses pembelajaran tidak akan efektif. Sebaliknya melalui permainan yang FUN, apapun bisa diajarkan dan saya menyaksikan pertumbuhan anak yang luar biasa. Fun juga berarti kegiatan yang dipilih anak. Saya membiarkan anak menjadi pemimpin, saya hanya mengikuti dan mendukung (scaffolding).
Semoga bermanfaat.
Have Fun Parenting!

Andyda Meliala
Penulis buku “Anak Ajaib. Temukan dan Kembangkan Keajaiban Anak Anda Melalui Kecerdasan Majemuk”

Tuesday, May 17, 2005

TAHUKAH ANDA?

  1. Alloh menciptakan otak yang begitu hebat dalam tempo 6 tahun pertama. Ia mampu menampung informasi dengan kecepatan yang mengagumkan tanpa usaha sedikitpun.
  2. Seorang anak terlahir jenius, tetapi kita memupuskan kejeniusan mereka dalam 6 bulan pertama.
  3. 50% kemampuan intelektual seorang anak terbentuk di 0-4 tahun pertamanya.
    30% yang lainnya menjelang usia ke-8
  4. Saat terbaik untuk mengembangkan kemampuan belajar adalah sebelum masuk sekolah – karena sebagian besar jalur penting di otak belum dibentuk pada tahun-tahun awal penting tersebut.
  5. Membacakan cerita bagi seorang anak mempunyai manfaat intelektual, emosional dan fisik yang dapat meningkatkan perkembangan anak itu.
  6. Membacakan cerita bagi seorang anak akan membantu mengembangkan kosakata yang kuat dan kemampuan bahasa yang akan dibutuhkan di sekolah.
  7. Belajar apa saja termasuk MEMBACA, MENULIS, dan MATEMATIKA sebenarnya mengasyikkan apabila dilakukan secara menyenangkan antara orang tua dan anaknya.
  8. Dunia yang akan ditinggali anak-anak kita berubah 4 kali lebih cepat daripada sekolah-sekolah kita.

Wednesday, May 11, 2005

Mendidik anak selama 12 tahun saja sudah cukup?

Ya, menurut saya mendidik anak dengan perhatian full total sebenarnya cukup 12 tahun saja. Setelah itu kita tinggal mengawasi saja. Ini berdasarkan pengalaman saya. Orang tua saya mendidik anak-anaknya dengan disiplin ketat hanya sampai saya SD. Sejak kecil kami semua wajib melakukan hanya 4 hal : sekolah, sholat 5 waktu, belajar di malam hari, dan jam 9 malam tidur. Jika itu sudah dilakukan, maka kami boleh bermain.
Bahkan jika kami merengek pake syarat macam2, minta dibelikan ini itu, maka akan dikabulkan asal mau melakukan ke 4 hal itu. Jika permintaan kami sudah dituruti tapi kami tetap tidak mau, maka akan dimarahi dan dihukum.
Subuh, kita dicipratin air agar bangun untuk sholat subuh. Bila telah selesai sholat subuh, mau tidur lagi juga silahkan asalkan jam 7 berangkat sekolah. Disiplin ini lama kelamaan jadi kebiasaan.
Nah, ketika saya SMP, Ibu saya sama sekali tidak menyuruh saya ini itu, terserah saya mau ngapain, Ibu sudah percaya penuh. Padahal saat itu saya mulai kost, dimana teman-teman se kost an saya kebanyakan anak SMA. Ketika teman-teman di malam hari ngobrol ngalor ngidul, dll, saya belajar. Karena sudah jadi kebiasaan bhw malam hari itu adalah waktu untuk belajar. Ada perasaan tidak nyaman ketika tidak belajar. Demikian juga sholat 5 waktu. Tidak pernah terlewatkan, karena ada perasaan berdosa dan tidak nyaman jika tidak sholat. Begitulah,... bertahun-tahun kemudian itu jadi kebiasaan yang tetap saya kakukan, meski Ibu saya tidak menyuruh. Demikian hal nya dengan kakak dan adik saya, juga terbentuk kebiasaan yang sama. Belajar dan Ibadah adalah 2 hal yang ditekankan oleh orang tua saya, yang kebetulan keduanya berprofesi sebagai guru.
Ibu kost saya yang di Surabaya, karena begitu sayangnya pada ke empat anaknya, sampai-sampai tidak tega untuk menyuruh anaknya sholat atau belajar. Jika si anak merajuk tidak mau belajar atau sholat, dibiarin karena sayang. Dia pikir toh nanti kalo sudah besar akan tahu sendiri pentingnya belajar dan ibadah. Sayang sekali, justru karena sejak kecil tidak pernah dibiasakan belajar dan ibadah, maka sampai dewasanya sekarang, mereka sangat susah jika disuruh belajar dan sholat. Kerjanya cuma nonton TV melulu, atau melakukan hal-hal yang wasting time.
Jadi, didiklah anak dengan disiplin ketat sejak dini hingga umur 12 tahun. Setelah itu, kita tinggal kipas-kipas mengawasi aja, karena kebiasaan baik sudah terbentuk. Ketika anak menginjak remaja, sangat sulit untuk diperintah, mereka cenderung memberontak. Jadi kesempatan membentuk kebiasaan mereka hanya ketika masih kecil, ketika masih duduk di bangku sekolah dasar.

Full Day School, Perlukah?

Pernah lihat iklan di TV tentang Kijang Inova? Ada 3 orang anak yang saling bercerita tentang kekayaan orang tuanya. Anak pertama dan kedua membual bahwa ayahnya punya pesawat lah dll, sementara anak yang ketiga dengan malu-malu bilang : “Ayahku punya Kijang Inova” .Ya, itu memang cuma iklan. Tetapi itulah kenyataan yang terjadi pada anak-anak, terutama yang sekolah di Full Day School.
Kenapa fenomena ini bisa terjadi? Kalo kita perhatakan, biaya masuk sekolah seperti ini sangat mahal. Bagi orang kaya, nyekolahin anak ke sekolah mahal itu investasi, uang tidak jadi masalah. Selain karena mereka merasa aman bahwa anaknya akan jadi “orang”, juga karena prestise/gengsi orang tua. So, tidak heran jika di depan sekolah-sekolah seperti ini selalu berderet mobil-mobil bagus, seolah jadi ajang pamer kekayaan. Dan celakanya, ini tidak hanya menimpa ibu-ibu, tetapi juga menimpa anak mereka. Anak-anak di sekolah akan selalu pamer ke teman-temannya. “Ayahku mobilnya tiga. Ayahmu mobilnya berapa?” “Kemarin aku makan buah naga, kamu pernah tidak?” “Ayahku seorang jenderal, TV ku di rumah ada 8, di tiap ruangan ada TV nya.” Itulah beberapa bualan yang saya dengar dari anak-anak.
Beberapa orang tua mengeluh tentang hal ini. Betapa tidak, pulang sekolah, si anak nangis minta dibeliin mobil. Ada juga yang minta dibeliin rumah karena ortunya masih tinggal di pondok mertua indah, atau minta dibeliin makanan mahal-mahal. Bagi orang tua yang super duper kaya sih, ngga masalah. Nah, kalo sudah seperti ini siapa yang harus bertanggung jawab?
Full Day School dengan segala kelebihannya, ternyata menyisakan efek terhadap life style si anak. Full Day Shool juga bisa jadi sarana penitipan anak karena orang tua sibuk bekerja. Anak mendapat pendidikan plus, ada yang mengedepankan keahlian berbahasa Inggris, ilmu-ilmu keIslaman, sejak SD sudah hafal sekian ratus hadis, ada yang mengedepankan keahlian / skill, dll. Seolah dengan memasukkan anak ke Full Day School, orang tua bisa melepaskan tanggungjawab pendidikan anak sepenuhnya di tangan sekolah. Padahal, bagaimanapun juga, pendidikan anak tetap jadi tanggung jawab orang tua. Andai saja orang tua mau meluangkan waktunya, mencurahkan tenaga dan pikiran, untuk dengan sungguh2 mendidik anaknya dengan baik, maka sekolah di SD Inpres aja sebenarnya sudah cukup.

Anak-Anak Korban Mode?

Azmi, 8 th, bersama gank kecilnya,Gita dan Muti, mereka punya kesukaan yang sama : Barbie! Barang apapun asal ada gambar Barbie, pasti minta dibelikan. Sampai-sampai warna baju, sepatu, dll selalu minta warna pink, warna yang sudah jadi trade mark Barbie. Pokoknya Barbie banget, gitu lho.
Saya ngga tahu, bagaimana anak-anak ini bisa jadi fans berat Barbie. Mungkin peran ortu juga ikut andil disini. Sejak bayi, Muti didandani dengan segala pernik Barbie mulai dari ujung kaki hingga kepala. Akhirnya dia jadi sangat suka Barbie, dan ini menular ke Azmi dan Gita. (Tahu ngga, tanpa kusadari aku juga ketularan jadi suka warna pink! ha.ha.ha.).
Ketika AFI disiarin di Indosiar, dan jadi trend, anak-anak ini ikut-ikutan nge-fans. Sampai-sampai poster, cd, kaset, dll mereka koleksi. Dunia entertainment seolah telah menyihir mereka. Tiap ada kesempatan mereka bernyanyi dengan memakai mike dan bergaya seolah-olah mereka juga peserta AFI. Ketika ada Konser AFI di Sabuga mereka merengek minta diantar nonton. Dengan bangga Azmi bercerita kalo dia sempat bersalaman sama Icha peserta asal Bandung.
Pernah aku tanya Azmi : “Nanti kalo sudah besar Azmi pengen jadi apa?” Dengan mantap dia jawab : “Pengen jadi entertainer.” Gile....., entertainer, gitu lho. Kosakata yang waktu aku seumur dia belum begitu familier. Dulu, kalo anak kecil ditanya pengen jadi apa, mereka akan bilang pengen jadi dokter, presiden, dll. Bahkan percaya tidak, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono waktu kecil ditanya pengen jadi apa, dia jawab: pengen jadi Presiden! Kalo anak jaman sekarang, pasti jawabnya pengen jadi artis, model, entertainer, dan sejenisnya. Profesi macam dokter, dll sudah tidak menarik dimata mereka. Kenapa? Apa yang membuat mereka tertarik jadi entertainer? Apakah kepopuleran dan materi yang membuat anak-anak ini bercita-cita seperti itu? Memangnya anak-anak sudah berpikir sejauh itu?
Bukan berarti profesi entertainer tidak bagus, sah-sah aja, selama masih halal, why not? Daripada jadi koruptor, hayo..Dari cerita di atas, saya jadi berpikir, kenapa ngga sekalian aja kita perkenalkan anak-anak sejak dini dengan hal-hal yang berbau Islam berikut pernik-perniknya. Memang tidak harus selalu menggunakan symbol Islam untuk menunjukkan keIslaman kita. Namun tidak ada salahnya kan, jika anak sejak kecil dikenalkan dengan hal-hal tersebut. Apalagi tiap malam kita bacakan cerita-cerita tentang Nabi dan Rosul, serta para salafus sholeh. Agar pelan-pelan mereka nge-fans kepada orang-orang sholeh. Semoga suatu saat mereka punya cita-cita menjadi ulama, paling tidak gaya hidupnya meniru para salafus sholeh. Atau kebanggaan mereka adalah ketika bisa hafal Al qur’an atau bisa khatam Iqro’ atau hafal sekian hadist. Betapa inginnya saya punya anak yang jadi seorang ulama. Bahkan jauh di lubuk hati saya yang terdalam, saya punya mimpi mempunyai anak yang jadi Khalifah ! ha.ha.ha. Kenapa tidak? Mimpi kan gak bayar.

Tuesday, May 10, 2005

Logika Anak-Anak

Abi, 2.5 th – keponakanku – sangat senang ketika aku beri sebuah benda, yang baru pertama kali dilihatnya. Lup, atau orang Jawa bilang suryokontho atau kaca pembesar. Aku ajak dia cari semut, aku bilang dengan kaca pembesar ini semut akan terlihat lebih besar. Beberapa kali dia cari semut dan bilang : “Tante Ufi, semutnya jadi besar ! “ sambil tertawa senang.
Ketika aku bilang bahwa lup ini juga bisa membuat api dengan bantuan sinar matahari, dia sangat antusias dan penasaran. Apalagi dia sudah beberapa bulan ini setiap ke mall selalu minta dibelikan pistol kecil, hitam, yang bisa keluar apinya. (inilah akibat tayangan di tv ck.ck.ck.).
Saat itu juga minta ditunjukkan bagaimana caranya. Karena masih mendung, aku bilang untuk menunggu sampai matahari kelihatan. Sekitar pukul 9 pagi matahari memancarkan sinarnya melalui celah-celah jendela. Seketika Abi kegirangan dan bilang : “Tante Ufi, itu sudah ada warna onyes (orange, red). Sudah ada mataharinya.”
Akhirnya aku coba bikin api dengan lup tersebut. Tapi karena sinar matahari kurang maksimal, maka lama sekali kertasnya belum juga terbakar. Karena abik belum mandi aku suruh dia mandi, tapi ngga mau. Aku bujuk dia mandi : “Ayo mandi, Bi. Ntar apinya ngga bakal keluar klo Abi belum mandi.” (Ini cara membujuk yang salah he.he..)
Setelah dia mandi, kami lanjutkan bikin apinya. Ternyata yang keluar cuma asap doang dan kertas koran jadi gosong. Tapi itu sudah bikin senang Abi, dia belajar sesuatu yang baru hari itu.
Pas jam 11 aku ajak Abi bikin lagi. Waktu menunggu kok ngga juga keluar api, cuma asap doang, aku menggumam : “Kok ngga keluar api sih?“
Abi bilang gini : “Abi udah mandi, Tante.”
Aku tanya :“Apa hubungannya?” Dia ulangi lagi : “ Abi udah mandi.”
Ha.ha.ha.. aku baru nyadar kalo tadi aku telah salah ucap. Jadi logika dia adalah seperti yang aku katakan bahwa kalo abi mandi maka apinya akan keluar.
Itulah... lain kali kalo mengatakan sesuatu sama anak kecil mesti hati-hati.
Dia senang sekali dengan lup itu, dibawa kemana-mana. Waktu dia lupa naruh dimana, dia nanya : “Mana kaca pembersihnya?”
“Ha.ha.ha.. salah Bi.”
Mana kaca penggedenya?’
"Ha.ha.ha...."

Monday, May 09, 2005

Sebuah Buku Karya Anak Usia 7 Tahun

Gefira, 7 th, salah satu anak Aa Gym, dalam usianya yang masih belia, sudah mampu membuat sebuah buku cerita! Apa hebatnya? Kan banyak tuh karya anak-anak seusia dia yang diterbitkan oleh penerbit terkenal macam Mizan.
Buku karya Gefira ini murni karangan dia, tanpa diedit sama editor sama sekali. Itu bedanya. Jadi bahasanya benar2 murni bahasa anak-anak yang penuh dengan imajinasi. Waktu pertama kali baca buku ini, saya tertawa ngakak, karena out of imagination. Selain itu, buku ini termasuk best seller – terlepas ada pengaruh dari nama besar orang tuanya. Harus diakui bahwa kebanyakan pembeli adalah orang2 yang ingin tahu bagaimana sih hasil karya anak Aa Gym. Ada satu hal yang mengusik benak saya adalah bagaimana cara mendidik anak bisa jadi seperti itu?


Awal Mula Gefira Bikin Buku
Aa Gym pernah bercerita, awal mulanya adalah Gefira mendapat tugas dari sekolah untuk bikin sebuah karangan. Ternyata dia sangat antusias dalam mengerjakan tugas tersebut. Melihat bakat anaknya, Aa Gym memberi motivasi dengan janji akan diberi uang Rp. 1000 tiap lembar yang berhasil diketik di komputer. Akhirnya jadilah sebuah buku, yang tentu saja diterbitkan oleh salah satu perusahaan bapaknya. Bukan itu sebenarnya yang menarik untuk disimak dari cerita ini. Tetapi bagaimana peran orang tua dalam mensupport bakat atau potensi yang terpendam dalam diri anaknya mampu melejitkan potensi dalam diri si anak. Sebenarnya hal seperti ini sangat mudah dilakukan oleh semua ortu, kecuali orang tua yang kurang perhatian terhadap anaknya. Sesibuk apapun – kurang sibuk apa Aa Gym itu - jika kita punya perhatian terhadap anak, maka itu sangat, sangat berarti bagi perkembangan anak kita di kemudian hari.